Bukit Kelam: Batu Raksasa Simbol Kehidupan di Jantung Borneo

Tulisan ini lahir dari tangan dan kegelisahan Trifina Oktaria Denti, orang muda Sintang yang menaruh hati dan hidupnya pada perjuangan masyarakat adat. Ia aktif bersama Aliansi Masyarakat Adat Sintang dan bertumbuh di ruang inkubasi orang muda Sintang, Gemilang. Bagi Ria, menulis dan memotret bukan sekadar medium berekspresi, melainkan cara merawat ingatan, menjaga mengarsip budaya, dan menyuarakan keberlanjutan dari sudut pandang generasinya. Sebelum tulisan ini sempat hadir di ruang publik, ia telah lebih dulu berpulang. Kepergiannya meninggalkan duka yang dalam, namun juga jejak yang tak mudah pudar. Melalui tulisan ini, kita tidak hanya membaca gagasannya, tetapi juga merasakan semangatnya, sebuah api kecil yang semoga terus menyala, menggerakkan lebih banyak orang muda untuk berdiri, bersuara, dan merawat tanah serta budayanya dengan cinta dan keberanian.

Di tengah hiruk-pikuk kota yang terus berkembang, di jantung Borneo yang masih menyimpan sisa-sisa lanskap hijau Kalimantan, berdiri sebuah batu raksasa yang bukan hanya sekadar penanda geografis, tetapi juga simbol spiritual dan budaya masyarakat lokal: Bukit Kelam, yang terletak di Kabupaten Sintang, Kalimantan Barat. Menjulang setinggi 1.002 meter, Bukit Kelam menjadi monolit yang megah dan tak terpisahkan dari alam serta kehidupan di sekitarnya.

Berada sekitar 20 kilometer dari pusat kota, Bukit Kelam kerap disandingkan dengan monolit-monolit dunia seperti Uluru di Australia atau Sugarloaf di Brasil. Namun, yang membedakan Bukit Kelam adalah lokasinya yang terletak di tengah ekosistem yang kaya dan lembap. Di sini, ribuan spesies saling bergantung dalam sebuah jaringan kehidupan yang rapuh namun menakjubkan.

Bukit Kelam, Kabupaten Sintang, Kalimantan Barat

Daya tarik Bukit Kelam tidak hanya terletak pada keagungan geologisnya, tetapi juga pada nilai-nilai spiritual yang mengiringinya. Bagi masyarakat Dayak setempat, Bukit Kelam adalah ruang sakral tempat roh leluhur bersemayam. Legenda yang berkembang di kalangan masyarakat lokal menggambarkan kisah-kisah tentang kekuatan, keserakahan, iri hati, dan ambisi yang gagal.

Legenda ini bukan sekadar dongeng pengantar tidur bagi anak-anak, ia berfungsi sebagai metafora ekologis yang relevan hingga kini. Sosok Bujang Beji, pemuda sakti yang menjadi tokoh dalam cerita, dipercaya masyarakat lokal menggunakan racun tuba untuk menangkap ikan, mencerminkan kerusakan yang muncul ketika manusia mengeksploitasi alam tanpa batas. Sebaliknya, Temenggung Marubai, yang lebih bijak dalam memanen sumber daya alam, melambangkan prinsip keberlanjutan dan keseimbangan.

Ketika Bujang Beji merasa iri terhadap hasil tangkapan Temenggung Marubai, ia memutuskan untuk menutup aliran Sungai Melawi dengan batu raksasa. Namun, saat dalam perjalanan, batu raksasa yang diangkat Bujang Beji dengan tujuh helai ilalang terjatuh setelah para bidadari dari langit menertawakannya, membuat Bujang Beji kehilangan kekuatannya. Bukit Kelam, dalam legenda ini, menjadi saksi bisu pertempuran nilai antara keserakahan dan kebijaksanaan, eksploitasi dan keberlanjutan.

Lereng-lereng Bukit Kelam dihuni oleh anggrek hutan langka, berbagai jenis kantong semar, dan pohon-pohon yang menjadi sumber kehidupan fauna endemik Kalimantan. Keanekaragaman hayati ini bukan hanya aset biologis, tetapi juga bagian dari kekayaan budaya yang dijaga oleh kearifan lokal. Bagi masyarakat Dayak, hutan bukan hanya ruang hijau, tetapi juga bagian dari identitas dan kehidupan mereka.

Selain nilai budaya dan ekologinya, Bukit Kelam memiliki potensi besar dalam sektor pariwisata berbasis konservasi. Jalur pendakian Bukit Kelam menawarkan tantangan bagi para pendaki dan pecinta alam, serta panorama yang memukau. Dari puncaknya, hamparan hutan tropis membentang luas, dengan Kota Sintang tampak di kejauhan, diselimuti kabut tipis dan suara-suara alam yang menenangkan.

Sayangnya, seperti banyak wilayah tropis lainnya, kawasan ini tak sepenuhnya aman. Deforestasi, alih fungsi lahan, dan tekanan ekonomi menjadi tantangan besar. Namun, harapan tetap menyala. Pemerintah daerah bersama komunitas lokal telah memulai langkah-langkah konservasi yang tidak hanya melindungi ekosistem, tetapi juga membuka jalan bagi pariwisata berbasis keberlanjutan. Pendekatan ini menempatkan masyarakat sebagai penjaga utama, bukan penonton pasif.

Jalur pendakian yang dibangun dengan mempertimbangkan keamanan pengunjung dan kelestarian lingkungan, serta aktivitas wisata yang dirancang agar memperkuat, bukan merusak sistem ekologis yang ada, menjadi contoh pariwisata yang harmonis dengan alam.

Dalam konteks krisis iklim dan menyusutnya hutan tropis dunia, Bukit Kelam berdiri sebagai simbol harapan dan pengingat akan pentingnya harmoni antara manusia dan alam. Ia tak berbicara, namun kehadirannya menyuarakan pesan yang kuat bahwa pelestarian bukan sekadar kewajiban moral, tetapi kebutuhan mendesak bagi keberlanjutan hidup.

Bukit Kelam bukan hanya sekadar batu besar di tengah hutan. Ia adalah narasi utuh tentang spiritualitas, budaya, dan lingkungan yang menyatu dalam kesunyian megahnya sebuah warisan yang hadir bukan hanya untuk dilihat dan dikagumi, tetapi juga untuk dihormati dan dijaga.

Arsip Festival

Kenali Lebih Akrab

Program